Shalat Jama’ah di Rumah Tapi Imam di Masjid, Bolehkah? Bagaimana Pandangan Empat Madzhab?


Oleh Sheikh Prof. Dr. Khalid Al-Musyaiqih dalam Fiqh An-Nawazil fi Al-‘Ibadah

Jika rumah di dekat masjid itu bersambung dengan masjid dan di antara keduanya ada pintu yang menghubungkan. Untuk hal ini, jumhur atau mayoritas ulama mengatakan sah mengikuti imam dan shalatnya sah dan tidak dipersyaratkan ru’yah (melihat) imam, cukup dengan mendengar suaranya saja. Namun ulama Hambali menyaratkan imam bisa dilihat atau melihat sebagian makmum walaupun hanya pada sebagian shalat. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini, seperti itu boleh namun tidak disyaratkan melihat imam.

Jika rumah tidak bersambung langsung dengan masjid. Mengenai masalah ini ada tiga pendapat. Pendapat pertama, berpendapat bahwa shalatnya sah selama bisa mengikuti imam baik melalui pengeras suara atau melihat imam. Inilah pendapat ulama Malikiyah. Pendapat kedua, berpendapat bahwa disyaratkan di samping bisa mengikuti imam, juga shaf shalat mesti bersambung. Inilah pendapat Ibnu Qudamah. Ini juga pendapat Hanafiyah. Namun di kalangan Hanafiyah berbeda pendapat jika antara shaf terpisah jarak sejarak dua shaf atau dalam masalah shalat jenazah atau shalat ‘ied. Sedangkan ulama Syafi’iyah membolehkan jika jaraknya masih terpisah sejauh minimal 300 dziro’ (hasta). Jika tidak demikian, maka tidak boleh. Pendapat ketiga, berpendapat bahwa tidak disyaratkan bersambungnya shaf, akan tetapi ada dua syarat yang mesti dipenuhi: (1) mesti bisa melihat imam atau sebagaian makmum meski dalam sebagian shalat, (2) mendengar melalui pengeras suara. Inilah pendapat dalam madzhab Hambali. Pendapat terkuat dalam masalah ini, jika shaf shalat bersambung, maka sah. Jika tidak bersambung, maka tidaklah sah. Maka disyaratkan untuk memungkinan imam bisa diikuti adalah bersambungnya shaf.

 

© Grup WA Islamia 082140888638.

📧 thegoldenmannersway@gmail.com

📡 Broadcast BBM 5259017E

📲 Klik http://www.quantumfiqih.com

🏘 Gabung facebook.com/groups/grupislamia

🌍 Ikuti channel Telegram.me/manajemenqalbu

📚 Dapatkan kesepuluh buku inspiratif Brilly El-Rasheed, S.Pd. di Gramedia dan Togamas atau di masing-masing penerbit.

📦 Miliki software khazanah Islam bernilai puluhan juta hanya Rp 575.500 diskon menjadi hanya Rp 570.000

 

Iklan

Situs Jual Beli Online Dibenci Allah, Benarkah?


 

Oleh Brilly El-Rasheed & tim CIFICS (Center for Islamic Fiqh & Culture Studies)

 

Sudah beberapa tahun belakangan situs jual beli online semakin merajalela, berikut keberadaan pasar/mall online. Hal ini memang patut disyukuri, disamping merupakan indikasi semakin dekatnya masa terjadinya qiyamah kubra. Dengan kondisi yang demikian itu, sebagian muslim memutar otak, apakah situs jual beli atau pasar online juga termasuk kategori pasar/jual beli real. Tim CIFICS bersama Kang Brilly sudah pernah membahas permasalahan ini, coba lihat kembali https://quantumfiqih.wordpress.com/2015/07/31/menjalankan-online-shopping-di-masjid/ dan https://quantumfiqih.wordpress.com/2015/07/30/tuntunan-islam-untuk-praktisi-online-shopping/.

Terkait masalah tersebut, ada sebuah hadits yang cukup menarik untuk dikaji, tanpa bermaksud ada hadits yang tidak perlu dikaji. Yakni sebuah hadits yang menyebutkan bahwa pasar atau tempat jual beli merupakan tempat yang dibenci Allah Ta’ala.

Read the rest of this entry

Hutang yang Dianjurkan Islam


Dalam Fatwa Islam Web no. 7198 disebutkan,

فمن كان غير واجد للمال الذي يكفي لشراء الأضحية فاشترى أضحيته بالدين المقسط، ‏أو المؤجل، لأجل معلوم، وضحى بها أجزأه ذلك، ولا حرج عليه ، بل إن من أهل العلم ‏من استحب لغير الواجد أن يقترض لشراء أضحيته، إذا علم من نفسه القدرة على الوفاء.‏
وليس من هذا الباب من كانت عنده سعة من المال، إلا أنه لا يجد الآن السيولة الكافية ‏لشراء الأضحية. فهذا مخاطب بالأضحية، لأنه واجد في الحقيقة، فعليه أن يقترض حتى ‏يضحي.‏ والله تعالى أعلم.‏

“Siapa yang tidak mendapati kecukupan harta untuk membeli hewan kurban, maka hendaklah ia membeli kurban dengan cara berutang (menyicil) atau dibayar pada waktu akan datang yang telah disepakati (dijanjikan). Jika seseorang berkurban dalam keadaan berutang seperti ini, kurbannya sah, tidak ada masalah baginya. Bahkan sebagian ulama ada yang menganjurkan bagi orang yang tidak mendapati harta saat berkurban supaya ia mencari pinjaman untuk membeli hewan kurban dengan catatan ia mampu untuk melunasi utangnya.

Hal ini tidaklah masuk dalam masalah orang yang tidak punya kelapangan rezeki. Namun saat ingin berkurban, ia tidak punya kecukupan harta untuk membeli hewan kurban padahal ia sudah terkena perintah berkurban. Karena kenyataannya ia termasuk oramg yang mampu. Maka saat itu hendaklah ia berutang untuk tetap bisa berkurban.Wallahu Ta’ala a’lam.“

image

Posted from WordPress for Android

Follow Instagram @INSPIRASIFIQIH


Telah hadir, akun instagram INSPIRASIFIQIH besutan QUANTUM FIQIH NETWORK. AKUN dakwah digital ini berperan penting dalam menshare ilmu-ilmu agama Islam khusunya bidang fiqh namun bukan semata-mata fiqh murni,  melainkan diambil semangatnya atau inspirasi yang terkandung di dalamnya.

Posted from WordPress for Android

7 Keajaiban Makkah Madinah


1. Ka’bah, Zero Magnetism Area

Para astronot telah menemukan bahwa planet bumi itu mengeluarkan semacam radiasi. Radiasi yang berada di sekitar Ka’bah ini memiliki karakteristik yang menghubungkan antara Ka’bah di planet bumi dengan ka’bah di alam akhirat. Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama “Zero Magnetism Area” , artinya apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub. Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat dan tidak banyak di pengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Dan karena itulah juga ketika kita mengelilingi Ka’bah, kita seakan-akan diri di recharge oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah di buktikan secara ilmiah.
Mekkah juga merupakan pusat bumi.

Read the rest of this entry

Istri Cerewet dan Suka Membangkang, Adzani Saja, Benarkah?


Disebutkan oleh Imam Al-Gazaliy rahimahullah dalam Ihyaa Ulumiddin 2/219:

«إِذا استصعب عَلَى أحدكُم دَابَّته أَو سَاءَ خلق زَوجته أَو أحد من أهل بَيته فليؤذن فِي أُذُنه»

“Jika seorang dari kalian merasa kesulitan menghadapi hewannya, atau akhlak istrinya buruk, atau seorang dari keluarganya, maka adzanlah di telinganya”.

Hadits ini dilemahkan oleh syekh Albaniyrahimahullah dalam silsilah Adh-Dhaifah 1/130 no.52 hanya mengikut perkataan Al-Iraqiy rahimahullah dalam Takhriij Al-Ihyaa’ (hal.683), dan beliau hanya mengatakan: “Diriwayatkan oleh Abu Manshur Ad-Dailamiy dalam “Musnad Al-Firdaus” dari Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma dengan sanad yang lemah”.

Hadits ini disebutkan oleh As-Subkiyrahimahullah dalam kumpulan hadits-hadits Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Gazaliy yang tidak ia dapatkan sanadnya. [Thabaqaat Asy-Syafi’iyah Al-Kubraa 6/319]

Akan tetapi ada hadits Diriwayatakan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya 1/291 no.389, Suhail bin Abi Shalih berkata: “Bapakku telah mengutusku kepada Bani Haritsah, saya pergi bersama budak kami -atau sahabat kami-. Lalu seorang memanggilnya dari suatu kebun dengan menyebut namanya. Maka orang yang bersamaku itu memeriksa kebun tersebut, namun dia tidak melihat sesuatu pun, maka aku menceritakan hal itu kepada bapakku, maka dia berkata, “Kalau saya merasa bahwa kamu akan menemui hal seperti ini, niscaya aku tidak akan mengutusmu, akan tetapi apabila kamu mendengar suara (aneh), maka kumandangkanlah adzan untuk shalat, karena aku mendengar Abu Hurairah menceritakan dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:

إن الشَّيْطَانَ إِذَا نُودِيَ بِالصَّلَاةِ وَلَّى وَلَهُ حُصَاصٌ

“Sesungguhnya setan, apabila seorang muadzdzin mengumandangkan adzan shalat, maka dia berpaling, dan dia memiliki kentut’.”

Al-‘iraqiy dalam Tharh At-Tatsriib (2/203) merajihkan bahwa hadits Abu Hurairah khusus untuk adzan waktu shalat. Wallahu a’lam!

image

image

image

Posted from WordPress for Android

%d blogger menyukai ini: